Seperti burung yang menjadi petunjuk awal bagi Charles Darwin dalam memformulasikan teori evolusi, maka bentuk KUTILANG INDONESIA sebagai sebuah lembaga juga terus berevolusi. Didirikan pada tahun 1990 oleh sekelompok Mahasiswa yang memiliki hobi mengamati burung di alam, pada tanggal 27 Oktober 2004 berdasarkan akta Notaris Hitaprana nomor 5, KUTILANG INDONESIA berubah bentuk menjadi Yayasan. Jejak perubahan sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1992. Pada waktu itu KUTILANG INDONESIA memutuskan untuk keluar dari lingkungan kampus dan menjadi salah satu kelompok pengamat burung pertama di Indonesia yang mandiri.
Pada era antara tahun 1990 sampai 1992, KUTILANG INDONESIA mulai merintis kegiatan pendidikan lingkungan terutama untuk anak-anak sekolah dasar di DI.Yogyakarta. Disamping itu, KUTILANG INDONESIA tetap menjalankan kegiatan pengamatan burung di berbagai tempat bahkan terlibat aktif dalam kegiatan eksplorasi kepulauan Karimunjawa di pantai utara provinsi Jawa Tengah.
Setelah keluar dari kampus dan mengukuhkan diri dengan nama Kutilang Indonesia Birdwatching Club (KIBC) lewat Akta Notaris No. 8, tanggal 30 Januari 1992, aktivitas KUTILANG INDONESIA semakin berkembang, yaitu diantaranya :
- Menginisiasi JARINGAN (Jaringan Kerja Seiring Lingkungan) dengan kegiatan berupa penghijauan di kawasan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, DI.Yogyakarta
- Aktif dalam berbagai jaringan lembaga yang memiliki kepedulian terhadap konservasi satwa dan penyelamatan lingkungan hidup, diantaranya : JAMIDI (Jaringan Mitra Dieng), KOMPLEET (Komunitas Peduli Slamet), JARLING (Jaringan Lingkungan Hidup), dan Jaringan PANTAU
- Bekerja bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) dalam pengembangan program pendidikan konservasi alam dan lingkungan hidup di DI.Yogyakarta
- Bekerjasama dengan BirdLife International-Indonesia Programme (BI-IP) melaksanakan survei Important Bird Area (IBA) dan Raptor di wilayah DI.Yogyakarta dan Jawa Tengah
- Bersama BI-IP dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta melaksanakan survei, riset, pendidikan lingkungan, dan uji coba pemasangan sarang buatan untuk pelestarian Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea abbotti) di Kepulauan Masalembo, Jawa Timur
- Dan pada akhir tahun 1999, KIBC merumuskan, untuk pertama kali, rencana strategisnya.
- KIBC juga menjadi salah satu lembaga inisiator dalam pembentukan Pusat Penyelamatan Satwa Liar di Indonesia
Seiring dengan berjalannya waktu, “baju” klub pengamat burung dirasa terlalu sempit terlebih melihat tantangan yang dihadapi semakin besar. Oleh karena itu sejak tahun 2002 “baju” rangkap berbentuk “yayasan” mulai dirintis untuk digunakan oleh KUTILANG INDONESIA.
Apa saja yang telah dikerjakan oleh KUTILANG INDONESIA setelah tahun 2000? silahkan download laporan publik Yayasan Kutilang Indonesia.



Sahutan