<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kutilang IndonesiaKutilang Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.kutilang.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kutilang.or.id</link>
	<description>Bekerja untuk konservasi burung</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 07:23:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Wiwik Kelabu</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-kelabu/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-kelabu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 07:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5246</guid>
		<description><![CDATA[Plaintive Cuckoo Cacomantis merulinus (Scopoli, 1786) Deskripsi Sedang (21 cm), berwarna coklat keabu-abuan. Kepala abu-abu, punggung coklat, perut dan ekor merah sawo-matang. Iris merah padam; paruh atas kehitaman,paruh bawah kuning; kaki kuning. Mirip Wiwik uncuing, tetapi lebih pucat dan kicauannya sangat berbeda. Tubuh bagian atas burung muda berwarna coklat bergaris-garis hitam, tubuh bagian bawahnya keputih-putihan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8540" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-kelabu/wiwik-kelabu_cacomantis-merulinus_magelang_hb/" rel="attachment wp-att-8540"><img class="size-full wp-image-8540" title="Wiwik-kelabu_Cacomantis-merulinus_Magelang_HB" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads/2012/05/Wiwik-kelabu_Cacomantis-merulinus_Magelang_HB.jpg" alt="" width="360" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Wiwik kelabu, Magelang, Jawa Tengah © Hasman Budiono</p></div>
<p><strong>Plaintive Cuckoo</strong><br />
<em>Cacomantis merulinus</em> (Scopoli, 1786)</p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Sedang (21 cm), berwarna coklat keabu-abuan. Kepala abu-abu, punggung coklat, perut dan ekor merah sawo-matang.<br />
Iris merah padam; paruh atas kehitaman,paruh bawah kuning; kaki kuning.<br />
Mirip Wiwik uncuing, tetapi lebih pucat dan kicauannya sangat berbeda. Tubuh bagian atas burung muda berwarna coklat bergaris-garis hitam, tubuh bagian bawahnya keputih-putihan dengan garis-garis halus, mirip Wiwik lurik dewasa, tapi tanpa garis mata.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
Kicauan &#8220;<em>te-ta-tii, te-ta-tii, te-ta-tii</em>&#8221; meratap, bertambah cepat dengan nada yang semakin lama semakin tinggi. Juga nada khas terdiri dari 2-3 siulan yang memecah menjadi nada-nada menurun &#8220;<em>pwee-pwee-pwee-pee-pee-pee-pee</em>&#8220;.<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=19101&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran dan ras</strong><br />
Terdiri dari 5 sub-spesies, dengan daerah persebaran:<br />
Global dan ras: India timur, Cina selatan, dan Filipina.</p>
<ul>
<li><strong><em>passerinus</em></strong> (Vahl, 1797): Berkembangbiak di pegunungan Himalaya di Pakistan utara dan India utara di timur sampai Nepal, Sikkim, Bhutan dan kemungkinan di Assam, dan di selatan melalui Semenanjung India sampai Nilgiris dan Wynad (Kerala); saat musim dingin bermigrasi ke selatan menuju Sri Lanka dan Kepulauan Maldive.</li>
<li><strong><em>querulus</em></strong> (Heine, 1863): Assam dan dataran rendah Bengal di timur sampai Cina selatan (termasuk Hainan), dan di selatan melalui Myanmar, Thailand, Laos dan Vietnam sampai Semenanjung Malaysia bagian utara; sebagian bermigrasi ke selatan menuju Semenanjung India dan Asia tenggara.</li>
<li><strong><em>merulinus</em></strong> (Scopoli, 1786): Filiphina.</li>
</ul>
<p>Lokal dan ras: Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi.</p>
<ul>
<li><strong><em>threnodes</em></strong> (Cabanis &amp; Heine, 1863): Semenanjung Malaysia selatan, Sumatera, dan Kalimantan.</li>
<li><strong><em>lanceolatus</em></strong> (S. Müller, 1843): Jawa dan Sulawesi.</li>
</ul>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Lebih sering terdengar daripada terlihat. Hidup di dataran rendah sampai ketinggian 1.300 mdpl. Menghuni hutan terbuka, hutan sekunder, dan lahan garapan, juga kota dan desa. Sering diganggu oleh burung-burung kecil. Memakan serangga, terutama ulat bulu, tetapi juga memakan ulat jenis lainnya, kumbang, rayap, serta buah-buahan. Mencari mangsa secara aktif di tajuk pohon.</p>
<p>Musim berbiak bulan Mei &#8211; Juni di Kalimantan. Memiliki kebiasaan menitipkan telurnya untuk diasuh oleh jenis burung lain seperti perenjak jawa, cinenen jawa dan cici padi. Telur berukuran 19 x 14 mm, dengan warna bervariasi tergantung jenis burung induk angkatnya. Dierami selama kurang dari 13 hari. Mulai keluar dari sarang dan belajar terbang umur 17-19 hari.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://www.fobi.web.id/v/aves/f-cuc/cac-mer" target="_blank">Foto Biodiversitas Indonesia</a><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?p=7&amp;Bird_ID=439&amp;Bird_Family_ID=&amp;pagesize=1" target="_blank">Oriental Bird Images</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-kelabu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wiwik Dada-coklat</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-dada-coklat/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-dada-coklat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 06:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5244</guid>
		<description><![CDATA[Chestnut-breasted Cuckoo Cacomantis castaneiventris (Gould, 1867) Sinonim: Cuculus castaneiventris Deskripsi Sedang (22 cm.); tubuh bagian atas abu-abu kebiruan; tubuh bagian bawah kadru; iris gelap dengan lingkaran mata kuning. Burung muda berwarna coklat polos, lebih gelap di tubuh bagian atasnya. Sangat mirip dengan Wiwik kipas, perbedaan yang jelas dapat diketahui dari ukuran Wiwik kipas yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8531" class="wp-caption aligncenter" style="width: 655px"><a href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-dada-coklat/wiwik-dada-cokelat_cacomantis-castaneiventris/" rel="attachment wp-att-8531"><img class="size-full wp-image-8531" title="Wiwik dada-cokelat_Cacomantis castaneiventris" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads/2012/05/Wiwik-dada-cokelat_Cacomantis-castaneiventris.jpg" alt="" width="645" height="511" /></a><p class="wp-caption-text">Wiwik dada-cokelat, Taja, Papua © Mehd Halaouate</p></div>
<p><strong>Chestnut-breasted Cuckoo </strong><br />
<em>Cacomantis castaneiventris</em> (Gould, 1867) Sinonim: <em>Cuculus castaneiventris</em></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Sedang (22 cm.); tubuh bagian atas abu-abu kebiruan; tubuh bagian bawah kadru; iris gelap dengan lingkaran mata kuning. Burung muda berwarna coklat polos, lebih gelap di tubuh bagian atasnya.</p>
<p>Sangat mirip dengan Wiwik kipas, perbedaan yang jelas dapat diketahui dari ukuran Wiwik kipas yang lebih besar dan tempat hidup Wiwik kipas yang berada di atas ketinggian 1500 mdpl. Selain itu, warna tubuh bagian bawah Wiwik kipas coklat lebih kusam, dengan belang samar dan bintik-bintik pada kedua sisi dada dan perut, serta ukuran takik yang lebih luas di kedua sisi ekornya. Tubuh bagian bawah Wiwik kipas muda polos dengan lingkaran-mata kuning.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
Siulan berirama yang semakin menurun, sering diulang, dan terdengar seperti ratapan. Juga rangkaian tiga nada seperti pada siulan Wiwik rimba, bedanya pengulangan tidak semakin cepat dan volume tidak semakin tinggi.<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=26353&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran dan ras</strong><br />
Papua, Australia, dan Pulau-pulau kecil di sekitarnya.<br />
Terdiri dari tiga sub-spesies, dengan daerah persebaran:</p>
<ul>
<li><strong><em>arfakianus</em></strong> (Salvadori, 1889): Kepulauan Papua barat dan Pulau Papua barat dari daerah Kepala Burung sampai Weyland dan Pegunungan Jaya Wijaya dan di timur sampai Sungai Fly.</li>
<li><strong><em>weiskei</em></strong> (Reichenow, 1900): Pulau Papua timur, dari wilayah Sepik, Semenanjung Huon dan bagian atas Sungai Purari eastwards.</li>
<li><strong><em>castaneiventris</em></strong> (Gould, 1867): Kepulauan Aru dan Australia timur laut (Pantai timur Cape York dan Queensland timur laut).</li>
</ul>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Burung penetap yang cukup melimpah, tapi jarang terlihat karena bertengger tidak mencolok di kanopi hutan bagian dalam dan tepi hutan pada hutan perbukitan dan hutan sekunder. Memakan serangga, terutama ulat. Bergerak antar kanopi hutan, untuk mencari serangga, kadang juga bertengger pada dahan yang rendah untuk memantau, kemudian terbang menyambar mangsa di permukaan tanah.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://www.mangoverde.com/wbg/picpages/pic76-29-1.html" target="_blank">Mangoverde</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-dada-coklat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wiwik Uncuing</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-uncuing/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-uncuing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 02:30:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5242</guid>
		<description><![CDATA[Rusty-breasted Cuckoo Cacomantis sepulcralis (S. Müller, 1843) Deskripsi Sedang (23 cm), berwarna coklat keabu-abuan. Kepala abu-abu; punggung, sayap, dan ekor coklat keabu-abuan; tubuh bagian bawah merah-karat. Punggung burung muda masih berwarna coklat-terang, warna tubuh bagian bawahnya keputih-putihan, dan seluruh tubuhnya bergaris-garis hitam yang cukup lebar dan jelas. Iris coklat dengan lingkar mata kuning; paruh hitam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8524" class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-uncuing/wiwik-uncuing_cacomantis-sepulcralis/" rel="attachment wp-att-8524"><img class="size-full wp-image-8524" title="Wiwik Uncuing_Cacomantis sepulcralis" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads/2012/05/Wiwik-Uncuing_Cacomantis-sepulcralis.jpg" alt="" width="640" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Wiwik uncuing, Kampus UNDIP Tembalang, Semarang © Karyadi Baskoro</p></div>
<p><strong>Rusty-breasted Cuckoo</strong><br />
<em>Cacomantis sepulcralis</em> (S. Müller, 1843)</p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Sedang (23 cm), berwarna coklat keabu-abuan. Kepala abu-abu; punggung, sayap, dan ekor coklat keabu-abuan; tubuh bagian bawah merah-karat. Punggung burung muda masih berwarna coklat-terang, warna tubuh bagian bawahnya keputih-putihan, dan seluruh tubuhnya bergaris-garis hitam yang cukup lebar dan jelas.<br />
Iris coklat dengan lingkar mata kuning; paruh hitam dengan bintik jingga; kaki abu-abu.<br />
Mirip Wiwik abu-abu, tetapi lebih gelap.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
Siulan sedih &#8220;<em>wiit</em>&#8221; atau &#8220;<em>pii-wiit</em>&#8220;, diulang 10-25 kali, dengan nada yang makin merendah. Juga kicauan meninggi, lebih cepat, dan tidak teratur; mirip kicauan Wiwik abu-abu.<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=67798&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran</strong><br />
Global: Semenanjung Malaysia, Thailand selatan, dan Filipina.<br />
Lokal: Kalimantan, Sumatera (termasuk: Belitung, Enggano, dan Simeuleu), Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara (Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba).</p>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Hidup di dataran rendah di perbukitan sampai ketinggian 1.600 mdpl. Menghuni hutan, tepi hutan, tumbuhan sekunder, perkebunan, dan kebun-kebun di pedesaan.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://www.fobi.web.id/v/aves/f-cuc/cac-sep" target="_blank">Foto Biodiversitas Indonesia</a><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?Bird_ID=438" target="_blank">Oriental Bird Images</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/wiwik-uncuing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadalan Sulawesi</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-sulawesi/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-sulawesi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 08:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5240</guid>
		<description><![CDATA[Yellow-billed Malkoha Rhamphococcyx calyorhynchus (Temminck, 1825) Sinonim: Phaenicophaeus calyorhynchus Deskripsi Besar (51 – 53 cm.). Punggung bagian atas merah marun, mahkota dan muka kelabu gelap, sayap ungu gelap. Tenggorokan dan dada merah bata, perut kelabu gelap. Iris merah. Paruh tebal, bagian atas melengkung, berwarna kuning-terang, bagian ujung paruh hitam bernoktah putih; dibawah lubang hidung dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8517" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-sulawesi/kadalan-sulawesi_phaenicophaeus-calyorhynchus-calyorhynchus/" rel="attachment wp-att-8517"><img class="size-full wp-image-8517" title="Kadalan sulawesi_Phaenicophaeus calyorhynchus calyorhynchus" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads/2012/05/Kadalan-sulawesi_Phaenicophaeus-calyorhynchus-calyorhynchus.jpg" alt="" width="450" height="600" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan Sulawesi, Gunung Ambang, Sulawesi Utara © Ingo Waschkies</p></div>
<p><strong>Yellow-billed Malkoha</strong><br />
<em>Rhamphococcyx calyorhynchus</em> (Temminck, 1825) Sinonim: <em>Phaenicophaeus calyorhynchus</em></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Besar (51 – 53 cm.). Punggung bagian atas merah marun, mahkota dan muka kelabu gelap, sayap ungu gelap. Tenggorokan dan dada merah bata, perut kelabu gelap. Iris merah. Paruh tebal, bagian atas melengkung, berwarna kuning-terang, bagian ujung paruh hitam bernoktah putih; dibawah lubang hidung dan rahang bawah merah. Burung muda menyerupai dewasa, tetapi iris mata cokelat, dan paruh kuning.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=29843&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran dan ras</strong><br />
Endemik atau hanya diketahui hidup di Subkawasan Sulawesi.<br />
Terdiri daari 3 sub-spesies, dengan daerah persebaran:</p>
<ul>
<li><strong><em>calyorhynchus</em></strong> (Temminck, 1825): Sulawesi utara, timur, dan tenggara; serta Kepulauan Togian. Ciri: berwarna lebih gelap.</li>
<li><strong><em>meridionalis</em></strong> (A. B. Meyer &amp; Wiglesworth, 1896): Sulawesi tengah dan selatan. Ciri pembeda: Mahkota dan tubuh bagian bawah lebih pucat. Ciri: mahkota dan tubuh bagian bawah berwarna lebih pucat.</li>
<li><strong><em>rufiloris</em></strong> (Hartert, 1903): Butung. Ciri pembeda: bulu-bulu di atas kekang berwarna merah-karat, dan bukannya abu-abu.</li>
</ul>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Burung penetap yang mudah dijumpai, menghuni hutan primer dan sekunder, tepi hutan, petak-petak hutan yang tersisa, semak, hutan terbuka dan lahan budidaya dengan pohon jarang di dataran rendah sampai ketinggian 1300 mdpl.</p>
<p>Makanan utamanya serangga, termasuk ulat bulu, belalang, dan kumbang. Bergerak melompat dan merangkak seperti tupai di tajuk pohon yang tinggi, mengikuti pergerakan gerombolan kera untuk memangsa serangga yang berterbangan ketika gerombola kera mencari makan di tajuk hutan. Juga terkadang bergabung dan mengikuti pergerakan bubut Sulawesi <em>Centropus celebensis</em>.</p>
<p>Musim berbiak pada bulan November &#8211; Desember. Bentuk sarang belum dideskripsikan. Telur berwarna putih, berukuran 36&#215;31 mm. Belum ada catatan mengenai jumlah telur per pasangannya. Pernah tercatat anakan burung ini yang diasuh oleh burung-madu siparaja <em>Aethopyga siparaja</em>.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: -<br />
Perlindungan: -</p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://www.fobi.web.id/v/aves/f-cuc/pha-cal" target="_blank"> Foto Biodiversitas Indonesia</a><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/birdimages.php?action=birdspecies&amp;Bird_ID=423" target="_blank"> Oriental Bird Images</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-sulawesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadalan Selaya</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-selaya/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-selaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 06:12:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5238</guid>
		<description><![CDATA[Raffles&#8217;s Malkoha Rhinortha chlorophaeus (Raffless, 1822) Sinonim: Phaenicophaeus chlorophaeus Deskripsi Besar (30 cm.), dengan ciri khas warna bagian mantel yang coklat-berangan. Kepala dan dada burung jantan berwarna merah-karat; tunggir abu-abu. Kepala, tengkuk, dan dada burung betina berwarna abu-abu; tungging merah-karat. Ekor panjang bertingkat, berwarna coklat-berangan pada bagian atas, danberujung putih pada bagian bawahnya. Iris coklat-tua; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Raffles&#8217;s Malkoha</strong><br />
<em>Rhinortha chlorophaeus </em>(Raffless, 1822) Sinonim: <em>Phaenicophaeus chlorophaeus</em></p>
<p><em><a rel="attachment wp-att-8390" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-selaya/kadalan-selaya_rhinortha-chlorophaeus/"><img class="alignright size-full wp-image-8390" title="Kadalan selaya_Rhinortha chlorophaeus" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-selaya_Rhinortha-chlorophaeus.jpg" alt="" width="196" height="252" /></a></em></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Besar (30 cm.), dengan ciri khas warna bagian mantel yang coklat-berangan. Kepala dan dada burung jantan berwarna merah-karat; tunggir abu-abu. Kepala, tengkuk, dan dada burung betina berwarna abu-abu; tungging merah-karat. Ekor panjang bertingkat, berwarna coklat-berangan pada bagian atas, danberujung putih pada bagian bawahnya.<br />
Iris coklat-tua; paruh hijau berpangkal biru; kaki biru-buram.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
Serangkaian nada “<em>meong</em>” yang menurun temponya dan terdengar sangat mirip suara kucing. Juga mengorek kasar mirip suara katak.<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=87891&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran </strong><br />
Semenanjung Malaysia, Sumatera, Bangka, Batu, Kalimantan dan pulau-pulau kecil disekitarnya.<br />
Terdiri dari 2 sub-spesies, dengan daerah persebaran:</p>
<ul>
<li><strong><em>chlorophaeus</em> </strong>(Raffles, 1822): Myanmar selatan (Tenasserim),      Thailand selatan dan Semenanjung Malaysia sampai Sumatera dan Kalimantan      utara, timur, dan selatan.</li>
<li><strong><em>fuscigularis</em> </strong>(Stuart      Baker, 1919): Kalimantan barat laut (Sarawak).</li>
</ul>
<div id="attachment_8391" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a rel="attachment wp-att-8391" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-selaya/kadalan-selaya_rhinortha-chlorophaeus_kalteng_id_001/"><img class="size-full wp-image-8391" title="Kadalan selaya_Rhinortha chlorophaeus_Kalteng_ID_001" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-selaya_Rhinortha-chlorophaeus_Kalteng_ID_001.jpg" alt="" width="200" height="160" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan selaya, Kalimantan Tengah</p></div>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Mengembara dalam kelompok kecil, terbang di antara pepohonan sambil berburu mangsa. Mudah di jumpai di hutan primer, hutan sekunder, hutan kerangas, dan pekarangan sampai ketinggian 900 mdpl.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://www.fobi.web.id/v/aves/f-cuc/rhi-chl?g2_GALLERYSID=" target="_blank">Foto Biodiversitas Indonesia</a><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?p=1&amp;Bird_ID=419&amp;Bird_Family_ID=&amp;pagesize=1" target="_blank">Oriental Bird Images</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-selaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadalan Saweh</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-saweh/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-saweh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 02:46:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5236</guid>
		<description><![CDATA[Chestnut-bellied Malkoha Rhopodytes sumatranus (Raffless, 1822) Sinonim: Phaenicophaeus sumatranus Deskripsi Besar (40 cm.), berwarna abu-abu. Perut coklat tua; ekor sangat panjang. Kepala, tengkuk, dada, dan sisi perut abu-abu; sayap hijau mengkilap kebiruan. Ekor bertahap, berwarna abu-abu kebiruan pada bagian atas dan berujung putih pada bagian bawahnya. Iris putih-biru pucat, dan kulit tanpa bulu di sekeliling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8383" class="wp-caption aligncenter" style="width: 567px"><a rel="attachment wp-att-8383" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-saweh/kadalan-sawah_phaenicophaeus-sumatranus_an/"><img class="size-full wp-image-8383" title="Kadalan sawah_phaenicophaeus sumatranus_AN" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-sawah_phaenicophaeus-sumatranus_AN.jpg" alt="" width="557" height="600" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan saweh, Lamteuba, Aceh Besar, NAD  © Agus Nurza</p></div>
<p><strong>Chestnut-bellied Malkoha</strong><br />
<em>Rhopodytes sumatranus</em> (Raffless, 1822) Sinonim: <em>Phaenicophaeus sumatranus</em></p>
<p><em><a rel="attachment wp-att-8382" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-saweh/kadalan-saweh_rhopodytes-sumatranus/"><img class="alignright size-full wp-image-8382" title="Kadalan saweh_Rhopodytes sumatranus" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-saweh_Rhopodytes-sumatranus.jpg" alt="" width="258" height="102" /></a></em></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Besar (40 cm.), berwarna abu-abu. Perut coklat tua; ekor sangat panjang. Kepala, tengkuk, dada, dan sisi perut abu-abu; sayap hijau mengkilap kebiruan. Ekor bertahap, berwarna abu-abu kebiruan pada bagian atas dan berujung putih pada bagian bawahnya.<br />
Iris putih-biru pucat, dan kulit tanpa bulu di sekeliling matanya berwarna merah; paruh hijau; kaki abu-abu.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
“<em>Tok – tok”</em> atau “<em>ci-ci</em>”<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=79359&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran dan Ras</strong><br />
Semenanjung Malaysia, Sumatera, Natuna utara, dan Kalimantan.<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=79359&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Hidup sendirian atau berpasangan, suka bersembunyi pada tajuk rapat di pohon-pohon yang kecil sambil mencari makan. Menghuni hutan primer dan hutan sekunder di dataran rendah sampai ketinggian 1000 mdpl. Memakan kadal, belalang dan ulat. Secara diam-diam merangkak mendekati mangsa di tajuk bagian tengah hutan. Sarang mendatar, tersusun dari jalinan ranting dengan daun, diletakkan pada percabangan batang semak belukar yang rendah sampai tajuk pohon yang tinggi. Di sumatra, tercatat sepasang burung melakukan kopulasi di bulan Agustus. Sedangkan di Kalimantan, tercatat berbiak di bulan Juli.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?p=2&amp;Bird_ID=430&amp;Bird_Family_ID=&amp;pagesize=1" target="_blank">Oriental Bird Images</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-saweh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadalan Kera</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kera/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kera/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 08:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[burung Kadalan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga Cuculidae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5234</guid>
		<description><![CDATA[Green-billed Malkoha Rhopodytes tristis (Lesson, 1830) Sinonim: Phaenicophaeus tristis Deskripsi Besar (55 cm.), dengan ekor sangat panjang dan paruh berwarna hijau. Kepala dan mantel abu-abu; tubuh bagian bawah abu-abu kecoklatan dengan tangkai bulu bergaris gelap yang nampak jelas pada kerongkongan dan dada; punggung, sayap, dan ekor hijau metalik gelap; bulu-bulu ekor berujung putih. Iris coklat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8377" class="wp-caption aligncenter" style="width: 617px"><a rel="attachment wp-att-8377" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kera/kadalan-kera_rhopodytes-tristis/"><img class="size-full wp-image-8377" title="Kadalan kera_Rhopodytes tristis" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-kera_Rhopodytes-tristis.jpg" alt="" width="607" height="700" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan kera elongatus, Jalan Tapan, TN Kerinci Seblat, Sumatera  © Yann Muzika</p></div>
<p><strong>Green-billed Malkoha</strong><br />
<em>Rhopodytes tristis</em> (Lesson, 1830) Sinonim: <em>Phaenicophaeus tristis</em></p>
<div id="attachment_8374" class="wp-caption alignright" style="width: 307px"><a rel="attachment wp-att-8374" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kera/kadalan-kera-2/"><img class="size-full wp-image-8374" title="Kadalan kera" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-kera1.jpg" alt="" width="297" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan kera elongatus</p></div>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Besar (55 cm.), dengan ekor sangat panjang dan paruh berwarna hijau. Kepala dan mantel abu-abu; tubuh bagian bawah abu-abu kecoklatan dengan tangkai bulu bergaris gelap yang nampak jelas pada kerongkongan dan dada; punggung, sayap, dan ekor hijau metalik gelap; bulu-bulu ekor berujung putih.<br />
Iris coklat, kulit tanpa bulu di sekeliling mata berwarna merah; paruh hijau; kaki hitam.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
Kicauan berkotek dan mengorek seperti suara katak.<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=90905&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran dan Ras</strong><br />
Terdiri dari 6 sub-spesies, dengan daerah persebaran:<br />
Global dan ras:<strong> </strong>Himalaya, Cina, dan Asia tenggara.<strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong><em>tristis</em> </strong>(Lesson, 1830): India utara dari      sekeliling Himalaya (sampai 1800 mdpl.) dan Kumaon di selatan sampai Madhya      Pradesh, di timur melalui Nepal, Sikkim dan Bhutan sampai Assam dan Bangladesh.</li>
<li><strong><em>saliens</em> </strong>(Mayr, 1938): Myanmar utara, Thailand      utara, Indochina utara dan Cina selatan (Yunnan).</li>
<li><strong><em>hainanus</em> </strong>(Hartert, 1910): Hainan di Cina selatan.</li>
<li><strong><em>longicaudatus</em> </strong>(Blyth, 1842): Myanmar selatan,      Thailand selatan dan Indochina selatan sampai Malaysia.</li>
</ul>
<p>Lokal dan ras: Sumatera dan Pulau Kangean</p>
<ul>
<li><strong><em>elongatus</em> </strong>(S. Müller, 1835): Sumatera.</li>
<li><strong><em>kangeangensis</em> </strong>(Vorderman,      1893): Kep. Kangean.</li>
</ul>
<p><em>Catatan:</em><br />
Taksonomi: Beberapa penulis mencatat ras <em>R. t. kangeangensis</em> yang hidup di Kepulauan Kangean sebagai jenis tersendiri dengan nama <em>Phaenicophaeus kangeangensis</em>.</p>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Burung penetap yang mudah dijumpai di lapisan tengah tajuk hutan primer, hutan sekunder, dan perkebunan pada kawasan hutan di dataran rendah dan hutan perbukitan pada rentang ketinggian antara 500 – 1500 mdpl. Memakan serangga, ulat besar, belalang, dan juga kadal. Mencari makan di tajuk atas hutan yang rapat.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?p=2&amp;Bird_ID=417&amp;Bird_Family_ID=&amp;pagesize=1" target="_blank">Oriental Bird Images</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadalan Kembang</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kembang/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kembang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 06:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[burung Kadalan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga Cuculidae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5232</guid>
		<description><![CDATA[Red-billed Malkoha Zanclostomus javanicus (Horsfield, 1821) Sinonim: Phaenicophaeus javanicus Deskripsi Besar (46 cm.), dengan paruh merah dan ekor panjang. Tubuh bagian atas abu-abu mengkilap hijau-kebiruan; dagu dan tenggorokan merah-karat; dada abu-abu kuning-tua; perut berwarna coklat-berangan; ujung bulu ekor putih. Iris coklat dan kulit tanpa bulu di sekeliling mata berwarna biru; paruh merah-koral; kaki abu-abu. Suara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8367" class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a rel="attachment wp-att-8367" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kembang/kadalan-kembang_zanclostomus-javanicus_sw/"><img class="size-full wp-image-8367" title="Kadalan kembang_Zanclostomus javanicus_SW" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-kembang_Zanclostomus-javanicus_SW.jpg" alt="" width="640" height="428" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan kembang, TN Baluran, Situbondo, Jawa Timur  © Swiss Winasis</p></div>
<p><strong>Red-billed Malkoha</strong><br />
<em>Zanclostomus javanicus</em> (Horsfield, 1821) Sinonim: <em>Phaenicophaeus javanicus</em></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Besar (46 cm.), dengan paruh merah dan ekor panjang. Tubuh bagian atas abu-abu mengkilap hijau-kebiruan; dagu dan tenggorokan merah-karat; dada abu-abu kuning-tua; perut berwarna coklat-berangan; ujung bulu ekor putih.<br />
Iris coklat dan kulit tanpa bulu di sekeliling mata berwarna biru; paruh merah-koral; kaki abu-abu.</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
Panggilan meratap, pelan, dan “<em>tok…”</em> lembut yang diulangi.<br />
<iframe src="http://www.xeno-canto.org/embed.php?XC=21012&#038;simple=0" scrolling=no frameborder=0 width=340 height=230></iframe></p>
<p><strong>Persebaran dan Ras</strong><br />
Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.</p>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Mengunjungi hutan yang agak kering, tepi hutan, dan belukar sekunder di dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1500 mdpl.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://www.fobi.web.id/v/aves/f-cuc/pha-jav?g2_GALLERYSID=" target="_blank">Foto Biodiversitas Indonesia</a><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?Bird_ID=421" target="_blank">Oriental Bird Images</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-kembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadalan Birah</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-birah/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-birah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 02:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Burung Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[burung Kadalan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga Cuculidae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=5230</guid>
		<description><![CDATA[Chestnut-breasted Malkoha Rhamphococcyx curvirostris (Shaw, 1810) Sinonim: Phaenicophaeus curvirostris Deskripsi Besar (49 cm.); paruh hijau, ekor panjang dengan ujung berwarna merah-karat yang jelas. Tubuh bagian atas hijau-pucat, mahkota dan tengkuk abu-abu, kulit muka tanpa bulu di sekitar mata berwarna merah. Tubuh bagian bawah merah-karat, tidak ada warna putih pada ekor. Ras-ras penghuni pulau berbeda-beda. Iris [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8360" class="wp-caption aligncenter" style="width: 649px"><a rel="attachment wp-att-8360" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-birah/kadalan-birah_phaenicophaeus-curvirostris_penggaron_kb/"><img class="size-full wp-image-8360" title="Kadalan Birah_Phaenicophaeus curvirostris_Penggaron_KB" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-Birah_Phaenicophaeus-curvirostris_Penggaron_KB.jpg" alt="" width="639" height="480" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan birah curvirotris, Penggaron, Ungaran  © Karyadi Baskoro</p></div>
<p><strong>Chestnut-breasted Malkoha</strong><br />
<em>Rhamphococcyx curvirostris</em> (Shaw, 1810) Sinonim: <em>Phaenicophaeus curvirostris</em></p>
<p><strong>Deskripsi</strong><br />
Besar (49 cm.); paruh hijau, ekor panjang dengan ujung berwarna merah-karat yang jelas. Tubuh bagian atas hijau-pucat, mahkota dan tengkuk abu-abu, kulit muka tanpa bulu di sekitar mata berwarna merah. Tubuh bagian bawah merah-karat, tidak ada warna putih pada ekor. Ras-ras penghuni pulau berbeda-beda.</p>
<p>Iris berwarna biru pada burung jantan dan kuning pada betina; paruh hijau berpangkal merah pada burung jantan dan berpangkal coklat pada betina; Kaki coklat abu-abu</p>
<p><strong>Suara</strong><br />
“<em>Tok-tok-tok</em>”, seperti kotekan ayam, kadang dengan “<em>tok-tok-trok</em>”. Juga kotekan saat terbang “<em>tok,tok,tok,tok</em>” yang diulang lebih cepat dari biasanya.</p>
<p><strong>Persebaran dan ras</strong><br />
Terdiri dari 6 sub-spesies, dengan daerah persebaran:<br />
Global dan ras: Semenanjung Malaysia dan Palawan</p>
<ul>
<li><strong><em>harringtoni</em> </strong>(Sharpe, 1877): Filipina barat daya (Balabac, Palawan, Calamianes).</li>
<li><strong><em>singularis</em> </strong>(Parrot, 1907): Myanmar selatan (Tenasserim) dan Thailand selatan melalui Semenanjung Malaysia sampai Sumatera. Ciri pembeda: tenggorokan dan pipi abu-abu, perut hitam.</li>
</ul>
<p>Lokal dan ras: Kalimantan, Sumatera, Bangka, Mentawai, Jawa, dan Bali.</p>
<ul>
<li><strong><em>oeneicaudus</em> </strong>(J. &amp; E. Verreaux, 1855):      Kep. Mentawai (di ujung barat Sumatera).</li>
<li><strong><em>curvirostris</em> </strong>(Shaw, 1810): Jawa bagian tengah      dan barat.</li>
<li><strong><em>deningeri</em> </strong>(Stresemann, 1913): Jawa bagian      timur dan Bali.</li>
<li><strong><em>microrhinus</em> </strong>(Berlepsch,      1895): Kalimantan dan Bangka. Ciri pembeda: kerongkongan, pipi, dan perut      coklat berangan, ekor lebih pendek dan terpotong lebih lurus.</li>
</ul>
<div id="attachment_8361" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a rel="attachment wp-att-8361" href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-birah/kadalan-birah_phaenicophaeus-curvirostris_palangkaraya_id/"><img class="size-full wp-image-8361" title="Kadalan birah_Phaenicophaeus-curvirostris_Palangkaraya_ID" src="http://www.kutilang.or.id/wp-content/uploads//2012/05/Kadalan-birah_Phaenicophaeus-curvirostris_Palangkaraya_ID.jpg" alt="" width="360" height="500" /></a><p class="wp-caption-text">Kadalan birah microrhinus, Palangkaraya, Kalimantan Tengah  © Indrayana</p></div>
<p><strong>Tempat hidup dan Kebiasaan</strong><br />
Umum dijumpai di beberapa tempat di dataran rendah, sampai ketinggian 1.100 m (kadang-kadang lebih tinggi). Sering mengunjungi belukar di hutan-hutan. Kadang-kadang berpasangan atau dalam kelompok keluarga kecil. Bertengger diam untuk waktu yang lama pada tajuk pohon kecil. Kadang-kadang datang ke padang alang-alang.</p>
<p><strong>Status</strong><br />
Daftar merah IUCN : Resiko Rendah (<strong>LC</strong>)<br />
Perdagangan Internasional: <strong>-</strong><br />
Perlindungan: <strong>-</strong></p>
<p><strong>Galeri</strong><br />
<a href="http://www.fobi.web.id/v/aves/f-cuc/pha-cur" target="_blank">Foto Biodiversitas Indonesia</a><br />
<a href="http://orientalbirdimages.org/search.php?action=searchresult&amp;Bird_ID=431" target="_blank">Oriental Bird Images</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/kadalan-birah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melepas Burung, bukan melepas tanggung jawab</title>
		<link>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/melepas-burung-bukan-melepas-tanggung-jawab/</link>
		<comments>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/melepas-burung-bukan-melepas-tanggung-jawab/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 17:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kutilang indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan umum]]></category>
		<category><![CDATA[Publikasi]]></category>
		<category><![CDATA[melepas burung]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[pelepas-liaran]]></category>
		<category><![CDATA[reintroduksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kutilang.or.id/?p=8507</guid>
		<description><![CDATA[Dalam konservasi burung, kegiatan melepas burung (bisa juga dibaca: pelepas-liaran) tidak semudah seperti yang dilakukan Anang dan Ashanty setelah akad nikah pada Sabtu (12/5/2012). Pelepasan sepasang merpati putih itu mereka lakukan sebagai ikrar kesetiaan seumur hidup, sementara dalam konservasi melepas burung adalah pilihan terakhir. Kegiatan yang hanya boleh dilakukan ketika kegiatan-kegiatan konservasi lain untuk menyelamatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam konservasi burung, kegiatan melepas burung (bisa juga dibaca: pelepas-liaran) tidak semudah seperti yang dilakukan Anang dan Ashanty setelah akad nikah pada Sabtu (12/5/2012). Pelepasan sepasang merpati putih itu mereka lakukan sebagai ikrar kesetiaan seumur hidup, sementara dalam konservasi melepas burung adalah pilihan terakhir. Kegiatan yang hanya boleh dilakukan ketika kegiatan-kegiatan konservasi lain untuk menyelamatkan jenis burung tersebut dari kepunahan terbukti gagal. Hal ini lebih disebabkan karena kegiatan melepas burung adalah kegiatan yang <span style="text-decoration: underline;">berbahaya</span> bagi konservasi.</p>
<p>Kata “berbahaya” tentu menjadi tanda tanya besar. Bukankah selama ini banyak politisi, pejabat, pimpinan masyarakat, bahkan akademisi yang melakukan kegiatan melepas burung untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap kelestarian burung?. Beberapa orang bahkan menuduh mereka yang menghalang-halangi kegiatan melepas burung adalah orang yang tidak memahami konservasi. Di negri ini, melepas burung seolah telah menjadi puncak perwujudan atas kepedulian terhadap kelestarian burung. Sebuah contoh nyata dampak buruk dari keterbatasan akses informasi dan gaya hidup instan.</p>
<p>Kata berbahaya sangat patut disematkan dalam kegiatan melepas burung, karena berbagai fakta berikut. Pertama, sedikit saja kesalahan dalam proses melepas burung dapat berakibat fatal. Kedua, dibutuhkan biaya yang besar untuk melepas burung secara benar. Dampak terbaik dari berbagai dampak buruk melepas burung adalah kematian burung yang kita lepas. Jika tujuan dari melepas burung adalah untuk melestarikan suatu jenis burung pada suatu tempat tertentu, maka kegiatan itu wajib diikuti oleh kegiatan monitoring dan evaluasi secara ketat. Pelepasan burung seringkali harus dilakukan secara berulang dan atau bertahap sampai dapat dipastikan keberhasilannya. Kegiatan dapat dihentikan ketika burung-burung yang kita lepas tersebut telah mampu bertahan dan berkembangbiak pada tempat kita melepaskan burung itu. Artinya, melepas burung tanpa dapat memastikan nasibnya adalah tindakan yang sia-sia; bahkan tidak berlebihan untuk mengatakannya sebagai tindakan pembunuhan berencana terhadap burung yang kita lepaskan.</p>
<p>Dampak paling buruk yang dapat diakibatkan oleh kegiatan melepas burung adalah kepunahan. Salah satu contoh adalah punahnya Nuri talaud ras Sangihe (<em>Eos histrio histrio</em>). Ras ini diduga punah setelah terjadi kawin silang dengan Nuri talaud ras Talaud (<em>Eos histrio talautensis</em>). Proses kawin silang ini terjadi akibat lepasnya <em>Eos histrio talautensis </em>yang diperjual-belikan di daerah Sangihe oleh para pemburu. Contoh lain adalah punahnya burung Atitlan Grebe (<em>Podilymbus<strong> </strong>gigas</em>) dan Alaotra grebe (<em>Tachybaptus rufolavatus</em>). Kedua jenis burung ini diketahui punah karena dilepaskannya sejenis ikan di danau tempat mereka hidup. Ikan yang dilepaskan tersebut ternyata memangsa ikan-ikan kecil yang menjadi makanan kedua jenis burung tersebut. Kalah bersaing dalam perebutan makanan, kedua jenis burung ini akhirnya punah.</p>
<p>Selain akibat kemungkinan terjadinya kawin silang (hibridasi) dan kompetisi, melepas burung juga dapat mengakibatkan tersebarnya penyakit atau parasit bagi burung-burung yang hidup di tempat kita melepaskan burung. Penelitian tentang hal ini masih sangat jarang dilakukan, sama sedikitnya dengan pengetahuan tentang penyakit dan parasit pada burung. Saat ini kita sangat kekurangan ahli yang memahami penyakit pada burung liar.</p>
<p>Kegiatan melepas burung selalu merupakan proses yang panjang, kompleks dan mahal. Detail rancangan tahap demi tahap dalam kegiatan melepas burung dapat dibaca pada lampiran. Secara umum, tahapan melepas burung dapat dibagi menjadi tiga, yaitu sebelum pelepasan, pelepasan, dan setelah pelepasan. Sebelum melepas kita harus tahu benar tentang status biologi, meliputi taksonomi, habitat, kesehatan, dan perilaku burung yang akan kita lepas. Akan lebih baik lagi jika kita juga memiliki referensi tentang kegiatan-kegiatan pelepasan yang pernah dilakukan. Kita juga harus memahami kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang hidup disekitar tempat kita akan melepas burung, serta interaksi mereka dengan jenis burung yang akan kita lepas. Pada tahap awal ini kita harus mampu merumuskan secara spesifik tujuan yang ingin kita capai dari kegiatan pelepasan sesuai dengan sumberdaya yang kita miliki.</p>
<p>Rumusan strategi pelepasan, meliputi jumlah dan komposisi burung yang akan dilepas, teknik dan pola pelepasan serta pentahapan dan waktu pelepasan sudah harus tersedia sebelum burung mulai kita lepas. Hal ini penting sebagai panduan dalam kegiatan pelepasan serta monitoring dan evaluasinya. Sebelum dilepas semua burung harus dipastikan telah memiliki kemampuan mencari makan dan berkembangbiak. Hal ini dapat kita ketahui dari proses aklimatisasi atau adaptasi ulang burung-burung yang akan kita lepas pada tempat pelepasan. Baiknya kegiatan melepas burung dilaksanakan secara pararel dengan kegiatan kampanye dan pendidikan konservasi terutama untuk masyarakat sekitar tempat pelepasan burung.</p>
<p>Monitoring terhadap burung yang telah kita lepas harus dilakukan untuk menjawab indikator-indikator yang telah kita tetapkan. Selain itu, studi-studi demografis, ekologis dan perilaku burung yang telah kita lepas juga harus dilaksanakan. Kita juga harus selalu siap untuk melakukan intervensi-intervensi taktis selama proses monitoring. Intinya, melepas burung kembali ke alam dalam konteks konservasi tidak sama dengan membuka sangkar atau melepasnya dari genggaman tangan kita.</p>
<p>Lampiran:</p>
<p>1. <a href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/melepas-burung-bukan-melepas-tanggung-jawab/panduan-reintroduksi-iucn_bahasa-indonesia/" rel="attachment wp-att-8508">PANDUAN REINTRODUKSI IUCN_bahasa indonesia</a></p>
<p>2. <a href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/melepas-burung-bukan-melepas-tanggung-jawab/reintroduction-guidelines-iucn/" rel="attachment wp-att-8509">reintroduction guidelines iucn</a></p>
<p>3. <a href="http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/melepas-burung-bukan-melepas-tanggung-jawab/rnews19-reintroduction-bird/" rel="attachment wp-att-8510">RNews19 reintroduction bird</a></p>
<p>selanjutnya jika sangat tertarik dengan kegiatan pelepas-liaran satwa atau bahkan ingin menjadi praktisi, silahkan bergabung dengan <a title="Species Survival commision Re-introduction Specialist Group International Union for Conservation of Nature and Natural Resources" href="http://www.iucnsscrsg.org/about_us.php">SSC RSG IUCN.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kutilang.or.id/burung/konservasi/melepas-burung-bukan-melepas-tanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

